Jumat, 09 Januari 2015

Cara Menghilangkan Najis Sedang

Najis Sedang ada dua, yaitu najis sedang yang kelihatan dan najis sedang yang tidak kelihatan najisnya. Untuk najis sedang yang kelihatan cara mensucikannya dengan menghilangkan 3 unsur sifat, yaitu warna, rasa dan bau. 

Misalkan terkena noda darah kambing, maka warna, rasa dan bau dari darah kambing tadi harus dihilangkan. Kalau susah sekali hilangnya dari ketiga unsur tersebut, misalnya warna dan rasanya sudah hilang, tetapi masih ada sedikit baunya, maka najisnya dimaafkan artinya sudah dianggap suci. Atau mungkin rasa dan baunya sudah hilang, tetapi bekas darahnya masih belum hilang, maka juga dianggap sudah suci.

Tetapi kalau yang hilang warna dan baunya tetapi rasanya masih ada, maka harus terus diupayakan untuk menghilangkannya. karena jika rasanya masih ada tidak dimaafkan atau belum dianggap suci. Tetapi jika memang sudah diupayakan dengan segala cara tetap tidak bisa hilang rasanya, ya pada akhirnya dimaafkan juga. Tetapi kita tidak boleh menggampangkannya. 

Kemudian bagaimana dengan najis sedang yang tidak kelihatan.
Misalnya ada anak kecil ngompol dilantai, kemudian air kencingnya dibersihkan atau dilap dengan kain sehingga sampai tidak kelihatan lagi bekas air kencingnya. Tetapi tempat yang terkena air kencing tadi masih tetap najis, meskipun sudah tidak ada air kencingnya. Kenapa masih dianggap najis?..karena  belum disucikan.

Lalu cara mensucikannya bagaimana? 
Caranya cukup disiram dengan air sampai mengaliri semua bagian lantai yang terkena air kencing tadi. Setelah disiram air maka lantai tersebut sudah dianggap suci. Lalu genangan air yang dipakai untuk menyiram tadi sudah dianggap suci. Jadi bisa langsung dipel.

Jika belum disiram tapi dipel pakai kain pel bagaimana?
Maka lantainya masih tetap najis. Jika diteruskan untuk mengepel seluruh lantai rumah, maka seluruh rumah jadi najis lantainya.  Maka jika mau dipel harus disiram dulu bagian lantai yang terkena najis tadi.

Jika air kencingnya masih ada dan langsung disiram pake air bagaimana?
Kalau air kencingnya masih ada maka air yang disiramkan jadi ikut najis. Nantinya jadi rata kemana-mana najisnya. Jadi harus dihilangkan dulu wujud najisnya, dalam hal ini air kencingnya harus dihilangkan dulu pakai kain. Setelah air kencingnya hilang, lantainya kan jadi sudah bersih dari air kencing, tetapi belum suci. Nah untuk mensucikannya dengan disiram air. Setelah disiram maka lantai sudah dianggap suci.
 

Selasa, 30 Desember 2014

Bagaimana agar kita dapat bersyukur?

Bagian 2

Agar dapat selalu melihat kepada keadaan orang lain yang berada di bawah kita, maka pusatkanlah perhatian kita kepada apa yang kita miliki dan jangan pernah memusatkan perhatian kepada apa yang belum atau tidak kita miliki bahkan milik orang lain. Jika kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap dan pasangan yang terbaik akan tetapi tetap masih merasa kurang, sebabnya adalah karena pikiran kita dipenuhi berbagai keinginan yang belum kita peroleh.
Rumah sudah ada, akan tetapi kita terobsesi oleh rumah yang lebih besar dan indah, mobil mewah serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita menginginkan ini dan itu. Bila tak mendapatkannya, kita terus memikirkannya. tetapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tidak merasa puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya.

Ada sebuah cerita mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tidak dapat membeli sepatu padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore si kakek melihat seseorang yang tidak mempunyai kaki, tetapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Jika seseorang yang tidak memiliki kaki bisa ceria, mengapa aku yang memiliki kaki sempurna bersedih dan berkeluh kesah hanya karena belum memiliki sepatu baru? 


Jumat, 26 Desember 2014

Bagaimana agar kita dapat bersyukur?

Bagian 1

Syukur merupakan sikap hati yang terpenting. Dengan bersyukur, seseorang akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah berikan?

Pertama, dengan mengingat-ingat dan menyebutkan berbagai nikmat Allah yang ada pada diri kita. Catatlah berbagai nikmat Allah yang kita rasakan di dalam sebuah buku. Dengan demikian kita akan menyadari bahwa sesungguhnya selama ini kita telah merasakan banyaknya nikmat Allah, walaupun sebenarnya apa yang kita sebutkan dan tuliskan itu baru sebagian kecil saja dari nikmatNya yang kita sadari dan kita ketahui.
Dengan mengingat dan menyebut berbagai nikmat dari Allah yang kita rasakan, maka kita akan lebih menyadari betapa Allah mencintai kita. Kita juga akan merasakan bahwa diri kita senantiasa berada dalam limpahan karuniaNya. 
Seseorang yang merasa bahwa hidupnya belum beruntung, penuh dengan kesialan dan penderitaan, maka cara  ini cocok untuk dilakukan. Karena jika orang-orang seperti ini terus mengeluh dan terus saja mengeluh, maka mereka akan semakin jauh dari nikmat Allah.

Kedua, di dalam urusan dunia, melihatlah ke bawah, bandingkan lah kondisi kita dengan orang lain yang keadaannya di bawah kita dan lebih menderita dari kita, misalnya orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sakit, lebih buruk dan sebagainya. Bersyukurlah karena kita memiliki pekerjaan, sementara banyak orang yang terpaksa harus mengemis untuk hidup. Bersyukurlah karena kita dapat mengenyam pendidikan yang layak, sementara masih banyak orang yang membaca pun tidak bisa. Bersyukurlah kita masih dapat makan tiga kali dalam sehari, sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kekurangan gizi juga kelaparan. Bersyukur karena kita masih dapat bernafas dengan bebas, sementara banyak orang yang tengah terbaring sakit, yang untuk bernafas saja dirinya memerlukan bantuan alat atau mesin.
 
Bersambung...

Jumat, 19 Desember 2014

Musibah Sebagai Solusi dari Allah

Suatu ketika sebuah kapal laut terhempas ombak kemudian menabrak batu karang dan hancur berkeping-keping. Hampir semua penumpang kapal tak tertolong nyawanya, kecuali seorang wanita separuh baya yang akhirnya terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Setiap hari ia berdoa mengharapkan pertolongan, tetapi tak ada satu pun kapal yang datang.

Setelah lelah menanti pertolongan yang tak kunjung datang, ia kemudian membangun sebuah pondok kecil dari kayu-kayu yang hanyut untuk berteduh dan menyambung nyawa. Suatu hari, setelah mencari makanan, ia pulang dan mendapati pondok kecilnya telah rata dengan tanah, habis terbakar. Ia berdiri terpaku diliputi perasaan sedih tak terkira. Ia pun kehilangan kesabarannya, putus asa dan protes kepada Allah. Ia berkata, "Ya Allah, sungguh Engkau tega berbuat demikian kepadaku. Gubuk satu-satunya, tempat bernaungku di kesunyian pulau ini pun Engkau izinkan terbakar habis..."

Malam itu ia tidur beratapkan langit dan berlenterakan bintang-bintang malam. Keesokan harinya, saat terbangun dari tidurnya, ia sangat terkejut karena ia mendengar suara kapan yang mendekati daratan. Ternyata kapal itu datang untuk menolongnya.

"Bagaimana kalian tahu aku berada di pulau ini?"
tanyanya kepada para penolong.

"Kami melihat asap yang kau kirimkan," jawab mereka.

Ternyata justru terbakarnya gubuk satu-satunya tempat bernaung wanita tersebut yang menjadi penyebab datangnya pertolongan Allah. Seandainya gubuk itu tidak terbakar, maka mungkin ia tidak akan tertolong dan tinggal di pulau itu sendirian.

Kita sebagai hamba, sudah seharusnya kita berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah atas musibah yang menimpa diri kita.

Sumber: 
SYUKUR
Bahagia Tanpa Henti
Oleh: Habib Naufal Bin Muhammad Alaydrus
 

Kamis, 11 Desember 2014

Nikmat Lima Puluh Ribu Dirham

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya 'Ulumiddin menceritakan:
Ada seorang lelaki yang mengeluhkan kemiskinan dan kesusahannya kepada seorang yang sholeh. Orang sholeh ini kemudian berkata kepadanya:
"Maukah kau menukar kedua matamu dengan sepuluh ribu dirham?"
"Tidak", jawabnya..

"Bagaimana jika kau diberi sepuluh ribu dirham tetapi menjadi bisu?"
"Wah, tentu saja tidak mau..."
sahut lelaki itu,

Orang sholeh itu bertanya lagi, "Maukah kau menukar kedua tangan dan kakimu dengan dua puluh ribu dirham?"
"Tidak, tidak..."
kata lelaki tadi,

"Maukah kau menjadi gila, tetapi kemudian diberi sepuluh ribu dirham?"
"Wah, tidak...tidak..."


"Apakah kau tidak malu, mengeluhkan Allah padahal dia telah memberimu anggota tubuh seharga lima puluh ribu dirham?" ujar orang sholeh tersebut.

Demikianlah kebanyakan sifat kita para manusia, saat memperoleh limpahan nikmat, kita lupa dan tidak menyebut-nyebutnya. Akan tetapi, saat ujian dan hal-hal yang tak menyenangkan tiba, lisan kita pun segera mengeluh tanpa henti.

Kita mengeluh saat kepala kita pusing, tetapi kita tidak bersyukur ketika kepala kita sehat. Seolah-olah kalo kepala kita sehat itu hal yang wajar dan menjadi hak kita. Kalau sakit itu menjadi musibah buat kita.
Kita lupa bahwa kenikmatan maupun kesusahan itu semua adalah pemberian dari Allah.

Mari bersama-sama kita belajar selalu bersyukur...


Dipetik dari buku: 
SYUKUR
Bahagia Tanpa Henti
Karangan Habib Naufal Bin Muhammad Alaydrus